7 Th Hijrah, Dewi Sandra Nyaris Bunuh Diri Sebelum Temukan Damai di Al-Quran

Artis Dewi Sandra kini sudah jauh dari dunia hiburan. Hal itu dilakukannya sejak memutuskan berhijrah. Dibutuhkan proses panjang dan tidak mudah hingga ia menemukan keyakinan yang tepat untuk dipeluk. Dewi Sandra telah melewati perjalanan spiritual yang cukup panjang.

Ia dibesarkan oleh Bunda yang merupakan seorang Muslim, sedangkan ayahnya adalah agnostik sebelum memutuskan menjadi mualaf. Tujuh tahun berhijrah, titik perjalanan spiritual Dewi Sandra bermula ketika menghadapi masalah pernikahan dengan mendiang Glenn Fredly. Artis keturunan Inggris itu mulai melakukan pencarian keyakinan.

Diakui Dewi, ia sempat berkontemplasi atas berbagai cobaan yang dialaminya pada saat itu. Ia berada pada fase kecewa dan ingin protes kepada Tuhan. Bahkan sempat terbesit keinginan untuk bunuh diri. “Aku kepengen nabrakin mobil. Aduh film-film banget, lagi hujan, terus lagi bengong terus musik lagi main, ‘I wanna d13, I wanna d13,'” ungkap Dewi Sandra di kanal YouTube Daniel Mananta.

Bintang film Ayat-Ayat Cinta 2 itu merasa sangat sedih dan kecewa. Berbagai masalah terus berdatangan dan menghajarnya bertubi-tubi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk fokus beribadah.

“Aku berkontemplasi. Aku berada di fase protes kepada Tuhan. Akhirnya aku berusaha untuk mencari tahu dengan belajar. Aku lihat orang, kok bisa sih ada orang yang tenang, kayak semua masalah ada solusinya?” kata Dewi, di kanal YouTube Luna Maya.

Orang itu kemudian menyarankan Dewi untuk membaca Al-Quran. Ketika melihat arti dari ayat-ayat di dalamnya, Dewi Sandra lambat laun menemukan jawaban. Namun Dewi masih kesulitan untuk memahami makna sesungguhnya di balik kalimat Al-Quran. Ia pun memutuskan untuk mencari guru yang dapat membimbingnya dalam mempelajari Islam.

Perjalanan Dewi Sandra untuk menemukan guru yang tepat tidaklah mudah. Ia berkali-kali mengganti guru karena belum bisa menemukan seseorang yang mampu membuatnya paham dengan ajaran Islam.

“Dapat guru yang tepat itu penting banget. Karena ketika dia menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik dan benar, akhirnya you’re connecting the dots. Kepingan puzzle yang tepat berhasil terpasang,” ujar Dewi.

Dewi Sandra tak memungkiri bahwa ia melewati momen-momen belajar yang cukup sulit. Ia bahkan sempat melewati fase perdebatan dengan berbagai guru. Ia kemudian menemukan sebuah kutipan tentang mencari guru yang tepat. Ternyata, ia menyadari bahwa hatinya sebagai murid harus lebih dahulu siap agar dapat menyerap ilmu.

“Seorang murid enggak akan mendapatkan jawaban sampai dianya siap. Lu mau ketemu guru sebagus apapun tapi kalau hati dan mindset belum siap, ilmu enggak akan masuk. Sampai akhirnya, dapat satu (guru) dia bilang, ‘Mbak Dewi coba deh lihat dari angle ini’. Cara menyampaikan benar, ilmunya tepat, dan aku bisa menyerap apa yang dia ajarkan,” ungkapnya.

Sewaktu Dewi Sandra menikah dengan Agus Rahman, pada 2011, keduanya tengah bersama-sama menjalani fase berhijrah. Sedang berada dalam proses belajar, perbedaan pendapat kerap terjadi di antara mereka ketika menerima ilmu.

“There are times when were like, ‘Kok pemahaman Lo sama gue beda ya?’ Tapi itu normal, semua orang punya cara berpikir, perspektif dan background yang berbeda,” kata Dewi di kanal YouTube Luna Maya. Wanita kelahiran Brasil, 3 April 1980 itu punya prinsip untuk berpegang teguh pada firman Allah dan sunnah Rasulullah. Pernah suatu ketika, Dewi dan suaminya beradu opini mengenai pandemi COVID-19.

“Pasti ada firman dan ayat Allah yang berkata spesifik kita harus berbuat seperti apa. Yang jadi masalah, mas Agus bilang ‘Enggak, gue percaya ini takdir Allah.’ Lho padahal enggak, ini kan sudah ada sunnahnya kita harus ikuti,” tuturnya.

Menurut Dewi, wabah merupakan hal yang sudah pernah dialami oleh Nabi di zaman dahulu, sehingga mereka harus berkiblat pada dalil Al-Quran. Termasuk bagaimana seharusnya umat manusia mematuhi perintah untuk menjauhi wabah dengan mengisolasi diri di rumah dan menghindari keramaian.

Meski begitu, Dewi dan suami selalu menikmati perbedaan pendapat yang mereka lewati. Dengan saling beradu pendapat, keduanya dapat mendapatkan sebuah ilmu dan pengalaman baru.

“Kalau sudah begitu, kita harus balik lihat dalilnya apa, sunnahnya apa, bukan maunya Dewi atau Agus. Berbeda opini jangan untuk ego, tapi untuk mencari kebenaran. Salah satunya dengan menerima kalau kamu salah,” tuturnya.

sumber : haibunda.com