Saya Merinding! Cerita Pengalaman Komandan Seskoal Saat KRI Nanggala Blackout: “10 Detik Turun 90 Meter”

Sebelum tenggelam di perairan Bali, KRI Nanggala 402 sudah pernah mengalami situasi blackout. “10 detik turun 90 meter, saya merinding …” kata Laksamana Muda Iwan Isnurwanto. Dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa 27 April 2021, Iwan menceritakan sendiri pengalaman mencekam yang ia alami. Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Laksamana Muda Iwan Isnurwanto menceritakan pengalamannya saat mengalami blackout di kapal selam KRI Nanggala-402.

“Saya waktu mengawaki Nanggala pun pernah mengalami hal yang serupa namanya blackout,” kata Iwan dalam konferensi pers, dikutip Rabu (28/4/2021). Blackout tersebut terjadi pada tengah malam saat dia sedang beristirahat. Tiba-tiba kapal mulai miring dan turun dengan cepat. Iwan pun langsung melompat dari tidurnya dan bersiaga.

“Posisinya adalah yang belakang ini langsung turun sampai (kemiringan) 45 derajat bisa lebih. Bagian belakang turun 45 derajat, tak sampai 10 detik turun 90 meter, padahal kita periscope deep,” cerita jenderal bintang 2 tersebut. Karena blackout, kondisi kapal jadi serba gelap dan hanya menyisakan lampu darurat. Komandan kapal langsung memerintahkan awak KRI Nanggala bergerak menuju bagian depan kapal atau haluan, dengan cara merangkak.

“Jadi lorong itu kita merangkak, mohon maaf ini saya merinding semua karena saya pernah mengalaminya, merangkak megang itu pintu-pintu itu sampai ke depan,” kenang Iwan. Untunglah, masalah blackout tersebut akhirnya bisa diatasi berkat upaya kepala kamar mesin (KKM) yang menghembuskan tangki pemberat pokok dan tangki tahan tekan sehingga KRI Nanggala kembali naik.

“Apa masalahnya? Ada satu fuse (sekring) yang putus, padahal kita enggak tahu fuse itu di mana. Tapi karena kecanggihan KKM pada saat itu, langsung bisa ketahuan langsung bisa diperbaiki. Alhamdulillah saat itu. Jadi itulah situasinya kalau blackout” kata Iwan. Terkait tengelamnya KRI Nanggala-402, Iwan menduga hal itu disebabkan oleh arus bawah laut. Menurutnya, jika sudah faktor alam maka tidak banyak yang bisa dilakukan.

“Kalau internal wave itu sudah faktor alam. Karena kalau terseret kita tidak bisa melakukan apapun. Kedalaman internal wave itu 180 meter, kalau sudah masuk semua nggak ada yang bisa jalankan kapal. Kapal secara tidak langsung akan terus turun ke bawah.” pungkasnya.

sumber : indozone.id