“Dia Sangat Ingin Pulang, Minta Sambal Teri Jos” Cerita Kakak Awak KRI Nanggala-402

Ririn Purwanti (42) terlihat masih sangat berduka. Dia beberapa kali menatap foto seorang pria berseragam loreng dengan tanda TNL AL di dada kirinya, Serda (Lis) Hendro Purwoto. Ririn adalah anak ke-4 dari 7 bersaudara. Hendro adalah anak yang paling kecil. Terakhir kali adiknya itu pulang saat ibunya meninggal pada tahun 2004. Sejak tahun 2007, adiknya itu bertugas di Surabaya.

Sejak itulah, Hendro tak pernah pulang walaupun berkali-kali menyatakan sangat rindu kampung halaman. “Dia sangat pengen pulang. Keinginan dia itu, dia minta sambal teri jos atau jos teri sama lontong sayur Medan. Itu aja keinginan dia, selebihnya ya kumpul sama keluarga, ziarah. Tapi itu akhirnya tak pernah kejadian,” katanya dengan mata sedikit basah, Senin (26/4/2021).

Ririn mengisahkan perjalanan hidup adik kandungnya itu. Hendro, kata dia, adalah anak nomor 7. Sebagai anak yang paling kecil, almarhum Hendro adalah sosok yang baik, taat ibadah, hormat kepada orangtua, pendiam dan penyayang. Hendro lahir di Medan dan menamatkan sekolah di STM Sinar Husni. Dia lupa tahun berapa. Kemudian tahun 2004, Hendro mengikuti ujian di Belawan dan lulus. Kemudian dia bertugas mengikuti pendidikan di Surabaya selama 9 bulan. Dia sempat pulang saat ibunya meninggal dunia.

Namun, saat ayahnya meninggal, dia tidak sempat pulang karena masih dalam masa pendidikan. Ririn mengaku dia mendapat kabar buruk tentang adiknya dari adik iparnya, Imrohatun (34). Adik iparnya itu menelepon Ririn pada Rabu pukul 03.00 WIB. Imrohatun menyebutkan bahwa Hendro bertugas di Kapal Selam Nanggala 402 dan hilang kontak. “Kami langsung lihat siaran TV lah. Kami lihat memang dia ada tugas di situ. Katanya kapalnya karam,” ujar Ririn sambil terus memandang foto Hendro.

Ririn mengaku jarang berkomunikasi langsung dengan Hendro. Dia lebih sering berkomunikasi dengan istrinya karena kesibukan sang adik. “Katanya lebaran ini dia mau pulang bawa istri dan anaknya,” ucap Ririn. Rencana pulang kampung gagal Joko Purwono, abang Hendro, sempat berkomunikasi dengan almarhum sekitar 2 minggu lalu. Joko mengatakan, adiknya juga bilang ingin pulang ke Medan.

Rencananya, Hendro ke Medan pada lebaran tahun ini dengan membawa serta istri dan anak perempuannya yang masih berusia 11 tahun. “Soalnya kan tak pernah ke sini istrinya. Kami pun karena terkendala ekonomi jadi tak bisa ke sana. Padahal kepengen sekali kami ke sana,” katanya. Joko Purwono mengatakan, dua minggu sebelumnya, ia sempat berkomunikasi dengan Hendro via video call. Saat itu mereka saling bertanya kabar. Menurut Jokoi, adiknya sangat ingin pulang ke Medan karena sudah sudah lama tak pulang. “Saya rindu, keluarga juga rindu.
Dua minggu lalu kami video call. Dia bilang, mungkin aku lebaran di perairan Bali ini mau pulang. Cuma nanti aku ada latihan perang lah. Saya tahu dia di kapal selam 402, karena pernah dia selfie,” katanya. Joko kemudian menunjukkan kaos yang diberikan oleh Hendro melalui keponakannya yang sempat bertemu di Surabaya. “Dia kirim 5 baju gini. Ini baju yang dikasih sama adik saya, untuk baju abang lah. Ini belum pernah saya pakai.

Inilah yang dikasihnya,” katanya. Kaos itu berwarna abu-abu dengan gambar seorang prajurit dengan tulisan ‘KOPASKA The Gultor. “Ini bingkisan yang sempat diberikan adik saya. Benar-benar rindu saya, kami lah, rindu sekali sama adik saya. Tapi mau gimana lagi. Semoga tenang dia di sana. Kami doakan dari sini,” ucapnya lirih.

Sebagaimana dikeahui, Kapal Selam (KRI) Nanggala 402 ditemukan di kedalaman 838 meter dan terpecah menjadi 3 bagian. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan lokasi Nanggala-402 berhasil dilacak oleh KRI Rigel. Hadi juga menyatakan bahwa 53 awak kapal telah gugur.

sumber : kompas.com