Pilu! Terjerat Kemiskinan, Tiga Bersaudara di Gresik Melajang hingga Tua

323 views

Kisah tiga lansia bersaudara asal Kabupaten Gresik sungguh memilukan. Bagaimana tidak, hidup yang serba kekurangan (kemiskinan) membuat ketiganya memilih tidak menikah. Hingga usia senja, mereka kini masih berstatus lajang.

Tiga bersaudara itu adalah, Waras (71) anak tertua, kondisinya buta sejak kecil, setiap harinya tidak jauh dari tempat tidur. Lalu, saudara kedua, Hamim (59) memiliki penyakit katarak mata dan terakhir si bungsu Khodijah (52) juga mengalami katarak mata.

Karena tidak menikah, ketiganya sepakat tinggal satu atap rumah di Kelurahan Pekelingan, Kecamatan Gresik, yang merupakan satu-satunya warisan orang tua. Rumah sempit itu menjadi saksi sulitnya hidup mereka. Untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya, keluarga ini hanya bisa mengharap bantuan dari warga dan tetangga.

Bahkan listrik yang setiap hari menerangi rumah berukuran 2X8 meter itu didapatkan dari bantuan tetangga. Tak ayal, satu listrik itu hanya bisa menerangi satu ruangan saja. Kendati demikian, tiga bersaudara itu masih bisa bersyukur. “Iya listriknya dibantu tetangga. Kadang merasa malu harus merepotkan tetangga terus. Tapi mencukupi kebutuhan setiap hari saja masih kewalahan,” kata Hamim saudara nomor dua, kepada SuaraJatim.id, Senin (10/5/2021).

Hamim sebenarnya pernah bekerja sebagai pembuat songkok. Dia menjadi tulang punggung keluarga, mengingat sang kakak sejak kecil tidak bisa melihat sama sekali. Belakangan, dia berhenti bekerja karena kesehatannya yang selalu menurun. “Dulu sempat bekerja sebagai pembuat songkok. Kini tidak bisa lagi. Penglihatan saya juga terganggu,” sambungnya.

Tidak hanya Hamim, saudara bungsunya Khodijah juga tidak bekerja karena kesehatannya. Ia sebelumnya bekerja sebagai tukang jahit pakaian. Karena masalah penglihatan, ia akhirnya berhenti bekerja. “Kalau yang paling tua memang tidak bisa ngapa-ngapain karena kondisi sejak kecil memang matanya tidak bisa melihat,” terang Hamim.

Kini kehidupan tiga bersaudara ini hanya bisa mengharap mendapatkan bantuan dari warga sekitar. Tak jarang, karena kondisi ekonomi, kata warga sekitar, keluarga ini juga kerap berpuasa. Beberapa warga yang kasihan, menyisihkan rezeki untuk mereka. Baik makanan siap saji maupun uang tunai.

Lebih parahnya lagi, ketiganya ini tidak mendapatkan bantuan sama sekali oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Bantuan yang diterimanya dari pemerintah hanyalah bantuan Covid-19, yang kini program itu sudah dihentikan.

“Bantuan dari warga saja. Bantuan dari pemerintah tidak pernah dapat. Hanya bantuan Covid-19 kemarin saja, selain itu tidak ada lagi,” bebernya. Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Sosial Gresik Sentot Supriyohadi mengatakan segera akan melakukan pendataan. Kendati demikian, pendataan tidak bisa langsung mendapatkan bantuan. Harus menunggu persetujuan dari pusat.

“Diakomodir dulu dari kelurahan, kemudian nanti kita usulkan agar dapat bantuan dari program keluarga harapan atau PKH,” pungkasnya.

sumber : jatim.suara.com