Ingin Punya Sepeda, Bocah 10 Tahun Ini Rela Jadi Tukang Cilor Keliling

322 views

Sebagian anak-anak yang hidup berkecukupan, bisa meminta barang atau hal apa saja yang mereka inginkan kepada orangtua. Namun, ada juga anak-anak yang harus membeli sendiri barang yang mereka inginkan. Anak-anak ini, rela bekerja sebisanya agar bisa membeli barang incaran.

Seperti kisah anak kecil yang rela jadi mencari pedagang cilor goreng berikut ini. Dikutip dari laman Jurnalsukabumi.com, bocah ini bernama Khorul Anwar. Bocah yang berusia 10 tahun ini adalah warga Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Sehari-harinya, ia rela menjadi tukang cilor demi mewujudukan keinginanya membeli sepeda.

Setiap harinya, ia membawa dagangan cilor yang dibuat oleh ayahnya sendiri. Ia biasa berkliling dengan berjalan kaki hingga ke kampung tetangga. Rasa lelah, panas terik matahari seakan tak ia hiraukan. “ Dia pengen sendiri, enggak ada yang nyuruh. Katanya pengen bisa nabung buat beli sepeda,” ujar Ai Siti Rahmah, Ibundanya.

Diketahui, Khorul adalah anak kedua dari pernikahan Ai Siti Rahmah dan suaminya Abdurohman. Ia lahir di tengah keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya yang juga bekerja dengan berjualan cilok keliling, penghasilannya tak cukup untuk membelikannya sepeda.

“ Khorul bilang, kalau belum bisa beli bikinin tanggungan aja. Biar khorul bisa jualan dan nabung,” tutur Ai.

Meski harus bersusah payah demi membeli sepeda keinginannya, semngat khairul tak pernah oadam. Terbukti, hari demi hari ia lewati sebagai tukang cilor hingga sudah berjalan sekitar 10 bulan. Namun, usahanya sebagai tukang cilor selama 10 bulan ini masih juga belum cukup untuk membeli sepeda.

“ Soalnya kan kadang kepake buat beli popok kakaknya. Kakaknya sakit, enggak bisa jalan dari umur dua tahun sampai sekarang udah 15 tahun. Kadang kepake sama bapaknya buat berobat kalau bapaknya sakit,” tutur Ai.

Dalam sekali jualan, Khorul paling banyak bisa mengumpulkan omset Rp 80 ribu. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 50 ribu diantaranya harus dibelanjakan untuk bahan-bahan jualan cilor. “ Paling gede dapet Rp 80 ribu lah. Kadang Rp 50 ribu, atau Rp 40 ribu. Sering juga nombok,” tutur Ai.

Ai menambahkan, selain keliling kampung, Khorul tak malu untuk mangkal di sekolah. Jika sampai sore dagangannya tak habis, Khorul menjualnya sambil ikut pengajian. “ Dia pengen banget sepeda. Tapi sampai sekarang tabungannya belum cukup,” tambahnya.

Di tengah keterbatasannya, Ai berharap anaknya tidak patah semangat. Ia berharap anak-anaknya selalu diberkahi rezeki yang cukup untuk sekolah, dan untuk memenuhi kebutuhan serta keinginannya.

Khorul tampak ceria meski harus berjualan. Meski sering bertemu teman-teman seusianya, Khorul terlihat tak malu berjualan.

“ Saya berjualan dengan keinginan sendiri dan hasil jualan, saya sisihkan untuk modal, jajan sekolah dan beli sepedah,” kata Khorul.

“ Mudah-mudahan aja bisa kebeli sepeda,” pungkasnya.

Semangat terus ya Khorul! Mudah-mudahan ada orang baik yang mau membantunya mendapatkan sepeda, aamiin.

sumber : diadona.id