Keluarga Trio Fauqi yang Wafat Usai Divaksin AstraZeneca Ungkap Hasil Autopsi

Viki, kakak kandung Trio Fauqi Virdaus (22), pemuda yang meninggal dunia usai vaksinasi COVID-19 dengan AstraZeneca, mengatakan sudah menerima hasil autopsi adiknya tersebut. Hasil autopsi itu disampaikan oleh Dinkes DKI Jakarta sore tadi sekitar pukul 16.30 WIB, Selasa (27/7). Saat itu perwakilan Dinkes mendatangi rumah mereka di Buaran, Jakarta Timur.

Selanjutnya mereka mengadakan zoom meeting untuk membahas hasil autopsi tersebut. Menurut Viki, dari hasi autopsi tidak ditemukan tanda-tanda komorbid yang menyebabkan Trio meninggal. “Diadakan zoom meeting ada Komnas KIPI, Prof Indra, Kemenkes Bu Siti sama dokter forensik RSCM, yang menyatakan bahwa hasil autopsi tidak ditemukan sama sekali komorbid dari almarhum Trio,” kata Viki kepada kumparan.

Selain itu juga tidak ditemukan adanya serangan jantung atau pun gagal paru. Hanya ada kelainan bintik-bintik hitam tapi tidak menyebabkan kematian. Lokasi bintik tersebut tidak disebutkan di mana. “Yang saya garis bawahi ada kelainan tapi tidak menyebabkan kematian. Dokter bilangnya tidak bisa kami bicara, bahwa kelainan itu tidak berakibat kematian,” ucap Viki.

Kata Viki, saat zoom tersebut, keluarga juga berkali-kali mempertanyakan penyebab kematian Trio apakah karena vaksin. Namun semuanya tidak bisa menjawab secara jelas, baik itu dari Kemenkes, RSCM atau pun Komnas KIPI.

“Tidak ada komorbid dan tidak ada serangan jantung. Adik saya meninggal kurang dari 24 jam setelah divaksin AstraZeneca. Mereka menjawab dengan halus, tidak bisa seperti itu (meninggal karena vaksin). Sebagai petugas medis (mereka) hanya bisa menyampaikan hasil autopsi,” kata Viki.

Menurutnya, saat itu jenazah Trio diminta untuk diautopsi demi kepentingan umum. Sehingga keluarga menyetujui meski jenazah Trio sudah dikebumikan 14 hari. Tetapi hasil autopsi yang awalnya dijanjikan dua minggu keluar, ternyata baru dikabari setelah dua bulan ke pihak keluarga.

“Ibu saya nangis, nggak puas dong. Dari awal kenapa harus autopsi,” ucapnya.

“Prof Indra juga menyampaikan minta maaf kami punya keterbatasan, kami dari bidang keilmuan juga tidak sempurna. Saya apresiasi statement itu karena memang manusia ngga ada yang sempurna, tapi yang saya janggal, kenapa sih kalau sudah jelas faktanya komorbid tidak ada, kelainan juga tidak bisa mengakibatkan kematian, serangan jantung nggak ada, hipertensi nggak ada, normal semua, maka kan 90% lah AstraZeneca dong,” imbuhnya.

Menurut Viki, dia dan keluarganya bukan orang yang anti-vaksin. Mereka mendukung program vaksin pemerintah demi mengendalikan pandemi ini. Viki sendiri saat ini sudah sudah mendaftar untuk vaksin. Hanya saja, keluarga meminta agar ada penjelasan soal penyebab kematian Trio.

Trio meninggal dunia sehari usai menjalani vaksinasi dengan vaksin AstraZeneca batch CTMAV547. Trio divaksinasi pada Rabu (5/5). Menurut penjelasan keluarga, Trio mengalami Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) yang tak kunjung reda.

Meski, keluarganya memastikan Trio tak memiliki riwayat penyakit berat maupun COVID-19. Usai vaksinasi, Trio demam, tetapi menolak untuk dibawa ke rumah sakit lantaran menurutnya, KIPI yang ia rasakan adalah reaksi yang umum.

Namun, setelah kejang-kejang pada Kamis (6/5) pagi, ia dibawa ke Rumah Sakit Astra Nugraha. Sesampainya di rumah sakit, Trio sudah dalam kondisi meninggal dunia. Ia terkonfirmasi meninggal pada pukul 12.30 WIB. Trio diautopsi pada Senin (24/5) di RSCM dengan kondisi saat itu jenazah sudah dikebumikan.

sumber : kumparan.com