Kenapa Atlet Suka Mengabadikan Tradisi Menggigit Medali ketika Juara?

268 views

Ketika menjuarai cabang olahraga di sebuah kompetisi, seperti misalnya, Olimpiade Tokyo 2020, atlet akan mendapatkan penghargaan berupa medali. Adapun sebuah tradisi ketika mendapatkan medali, atlet akan menggigitnya.

Meski kebiasaan tersebut sering dilihat, bahkan nyaris di setiap penyerahan penghargaan, tak banyak orang mengetahui asalan sebenarnya para atlet melakukan tradisi menggigit medali.

Namun, baru-baru ini terkuak awal dari tradisi tersebut. Mengutip India Times, disebutkan kegiatan menggigit emas dimulai pada awal 1800-an. Ketika itu, di California, Amerika Serikat, terjadi demam emas dan cara memastikan keaslian yaitu dengan menggigitnya.

Tak lama sejak itu, cara penambang memastikan keaslian emas pada medali dilakukan juga oleh para atlet. Karena pada dasarnya emas lebih lunak dari logam lainnya, bekas gigitan menjadi bukti keasliannya.

Hanya saja, di Olimpiade Tokyo 2020 ini, medali tak lagi sepenuhnya terbuat dari emas. Jadi, sejatinya tradisi menggigit medali untuk memeriksa keaslian emas sudah tak lagi relevan untuk dilakukan.

Hanya saja, tradisi tersebut tetap dilakukan oleh sebagian besar atlet. Namun, alih-alih untuk memeriksa keaslian, kini mereka melakukannya sekadar untuk merayakan keberhasilan saja.

Menariknya, panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 bahkan sampai penasaran mengenai rasa dari medali penghargaan. Lewat cuitannya, mereka juga sambil menyampaikan bahwa medali tersebut tak bisa dimakan.

“Menerima medali di Olimpiade tentu merupakan momen yang tak bisa dideskripsikan. Namun, bisakah para atlet Olimpiade memberi tahu kami bagaimana rasa medali?” tulis akun @Tokyo2020.

Disebutkan panitia, medali emas, perak, dan perunggu pada Olimpiade kali ini bukan terbuat dari emas, melainkan bahan daur ulang perangkat elektronik yang disumbangkan rakyat Jepang.

“Kami cuma mau secara resmi menginformasikan bahwa medali Tokyo 2020 tidak bisa dimakan!” kata panitia dalam keterangannya yang kemudian viral tersebut.

Proses mengekstrak logam dari barang elektronik untuk menjadi medali dilakukan dari April 2017 hingga Maret 2019. Lewat situs resmi Olimpiade, mereka pun berterima kasih kepada semua yang terlibat dalam proyek tersebut, terutama warga Jepang yang ramah lingkungan.

Sumber : kumparan.com