Cerita Masyarakat Tentang Nyanyian Merdu di Gua Maria Tritis

Posted on

Gua Maria Tritis, di Paliyan Gunungkidu merupakan tempat ziarah bagi umat Katolik. Tempat ini tidak hanya menjadi tempat berdoa tetapi juga menjadi harapan masyarakat sekitar.

Gua Maria merupakan salah satu tujuan wisata spiritual bagi umat Katolik. Budaya ini berawal dari penampakan Bunda Maria di sebuah gua di Lourdes, Prancis. Dari penampakan yang dikukuhkan sebagai mukjizat oleh Gereja Katolik, banyak umat paroki di seluruh dunia mengabadikan peristiwa ini di wilayahnya. Umumnya gua Maria adalah gua buatan yang dilengkapi dengan patung Bunda Maria.

Namun, ada juga beberapa gua alam yang telah diubah menjadi gua ziarah Maria. Selain goa Lourdes tadi, di Jogja juga terdapat goa alam sebagai tempat devosi kepada Bunda Maria. Dikenal dengan nama Gua Maria Tritis, gua ini terletak di Giring, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul. Gua di pegunungan karang dan kapur ini memiliki sejarah panjang sebelum diubah menjadi kawasan ziarah Katolik.

Gua Maria Tritis berjarak sekitar 37 km dari pusat kota Jogja. Melalui jalur Jogja Wonosari, peziarah dapat melewati Kecamatan Paliyan sebelum turun ke Jalan Pantai Selatan. Jika Anda terus ke selatan, banyak pantai yang indah akan menyambut. Dari Pantai Kukup, Sepanjang, Drini, dan Watu Kodok berada di sebelah selatan situs ziarah ini.

Saya dan beberapa rekan menyempatkan diri untuk berwisata kecil-kecilan di Pantai Watu Kodok. Pantai berpasir putih ini cukup sepi di hari biasa. Ditambah dengan pembatasan PPKM yang mengurangi jumlah pengunjung hingga 25% dari kapasitas.

Dari pantai Watu Kodok, kami mendaki pegunungan di selatan Jogja hingga pintu masuk Gua Maria Tritis. Di depan portal, kami disambut oleh salah satu penduduk setempat. Dia menawarkan sekotak lilin untuk berdoa dan membimbing kami ke tempat parkir.

“Hanya 10 ribu mas, simbah belum laku,” kata warga lirih. Kami langsung membeli karena kami juga belum membawa lilin dari rumah. Toh harga yang ditawarkan memang harga normal. Tanpa mark-up yang berlebihan seperti yang ditakutkan setiap berada di suatu daerah tujuan wisata.

 

 

Jalur menuju area parkir ini cukup baik. Namun, sangat kecil sehingga akan sulit ketika dua mobil bertabrakan. Sesampainya di tempat parkir, beberapa warga setempat duduk bergerombol sambil membawa payung. Ternyata mereka adalah guide sekaligus jasa ojek payung.

Kami langsung turun ke area gua. Bahkan, ada jalan Salib yang merupakan salah satu cara beribadah umat Katolik. Namun karena setelah pantai cukup berat, kami berenam hanya berniat salat di gua Maria. Oleh pemandu, kami diarahkan ke jalan berbatu di depan area parkir.

Sejauh yang saya ingat, jalan ini dulunya adalah tangga. Namun, tangga itu dibongkar dan meninggalkan jejak terumbu karang. Saya juga melihat ada beberapa tahi lalat semen serta bukit pasir. Menunjukkan bahwa memang ada pembangunan yang sedang berlangsung.

Saya terkejut melihat di salah satu tebing di atas jalan kami. Saya pikir seseorang sedang berdiri di sana. Ternyata saya melihat 3 salib yang memang menjadi titik pemberhentian jalur doa Jalan Salib. Memang ada beberapa titik yang dilengkapi dengan relief dan pahatan di kawasan ini.

Dalam perjalanan turun, kami diikuti oleh sekitar 5 pemandu yang memegang payung. Di depan juga ada 1 pengemudi yang menunjukkan jalan. Saya pribadi tidak banyak bicara dengan pemandu karena saya sibuk mengabadikan tempat tersebut. Salah satu rekan saya, Cicil (27) berjalan di depan dengan sopir tadi.

Saya mencoba mendengarkan mereka. Cicil menanyakan referensi kuliner daging babi di sekitar. Sopir menjawab “Saya tidak makan babi” untuk mengkonfirmasi keyakinan. Rekan-rekan saya dan saya tidak bisa menahan tawa pada miskomunikasi ini.

Sesampainya di rest area dan toilet, kita dipersilahkan untuk berjalan menuju goa. Jalan datar ini melintasi tepi jurang menuju Gua Maria Tritis. Di salah satu sudut jalur tersebut, terdapat prasasti peresmian lokasi ziarah ini. Prasasti tertanggal 20 Mei 2019 itu ditandatangani oleh Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko PR.

Sesampainya di pinggir goa, hawa dingin khas goa alami langsung terasa. Gua ini dipercantik dengan stalaktit dan stalagmit yang bersinar karena airnya. Salah satu titik dimana terdapat kumpulan besar stalaktit terdapat sebuah kolam. Kolam ini menampung air yang menetes dari stalaktit tersebut. Di dalamnya terdapat kursi panjang dan altar untuk kebutuhan massa. Di belakang altar ini ada patung raksasa yang menunjukkan Yesus sedang melihat ke atas.

Di mulut gua ini ada seorang wanita tua membaca doa Salam Maria. Wanita ini terlihat memegang kalung rosario yang bentuknya mirip rosario. Saya membungkuk di depan wanita ini sambil mengatakan “maaf”. Sambutan saya tidak kembali, menunjukkan bahwa wanita ini sedang berdoa dengan khusyuk.

Rekan-rekan saya dan saya menuju ke sudut gua di mana ada patung Bunda Maria. Patung hitam yang serasi dengan dinding gua ini diterangi oleh sekelompok lilin peziarah. Aku segera menyalakan lilin dan duduk bersila di depan patung. Bukan karena aku ingin, tapi karena tubuhku tiba-tiba terasa berat. Entah karena aku lelah, atau ada sesuatu.

Saya berdoa cukup lama. Di tengah doa, saya mendengar seseorang bernyanyi. Aku tetap diam mendengarkan suara orang berdeham. Suara nyanyiannya mirip dengan karakter lagu gereja. Namun, sampai detik ini, saya belum mengerti lagu apa yang saya dengar.

Setelah saya selesai berdoa, saya dengan mudah berdiri. Di lokasi sholat hanya ada Cicil dan Dyah (29). Aku berbisik pada Dyah, “dengar sesuatu?” Dyah hanya menggelengkan kepalanya. Aku mulai bertanya-tanya siapa yang bernyanyi. Kebetulan di lokasi hanya kami bertiga yang tersisa. Sementara tiga teman kami sudah meninggalkan gua. Ibu yang berdoa tadi juga masih mengaji dan tidak menyanyi.

Saya teringat cerita ibu saya ketika saya mengunjungi Gua Maria Tritis. Ibuku juga mendengar suara nyanyian. Padahal ibu saya berdua dengan ayah saya karena daerah ziarah sepi. Ketika ibu saya menjelaskan kepada Anda, Anda tidak mendengar. Ketika saya ingat cerita ibu saya, suara itu tiba-tiba menghilang. Persis seperti yang ibu saya alami.

Kami bertiga meninggalkan gua. Di depan pintu gua, ibu-ibu salat sedang menyapu lokasi. Saya juga mencoba menyapa dengan sederhana, “Wah, sepi, buk.” Rupanya sang ibu langsung menyapa dengan antusias. Sang ibu bernama Fransiska Wasilah (60) yang akrab disapa Mbah Siska. Dia menjawab pertanyaan saya dalam bahasa Jawa yang halus.

Mbah Siska adalah generasi pertama peziarah Gua Maria Tritis. Sebelum menjadi gua maria, gua tersebut merupakan tempat pertapaan para mistikus. Posisi goa yang jauh dari pemukiman membuat para peziarah mistik nyaman untuk bertapa di dalam goa. “Kadang ada 3 hari, ada juga belasan hari emas,” kenang Mbah Siska.

Nama Tritis sendiri berasal dari tetesan air dari stalaktit. Tetesan air ini dianggap seperti tetesan air hujan yang jatuh dari atap sebuah rumah. Tetesan ini dalam bahasa Jawa disebut Tritisan atau Tritis. Nah dari istilah inilah nama Gua Maria Tritis muncul. Saya melihat kembali stalaktit raksasa yang tetesan airnya ditampung oleh kolam buatan ini. Ini seperti melihat tetesan air hujan dari atap rumah.

“Kalau di bawahnya ada sungai emas, akan bermuara di Pantai Baron,” kata Mbah Siska sambil menunjuk celah di sebelah goa. Jurang, seperti lingkungan gua, penuh dengan tanaman liar. Sungai yang dimaksud tidak terlihat dari tempat saya berdiri. Karakter sungai bawah tanah ini mengingatkan saya pada banyaknya gua yang terdapat di Gunungkidul.

Mbah Siska bercerita tentang awal mula lahirnya Gua Maria Tritis. Semua berawal dari Pendeta AL Hardjasudarma SJ yang ingin membuat gua natal. Biasanya gua natal adalah gua buatan yang dipasang di area gereja. Saat menyampaikan keinginannya kepada warga Paroki Wonosari, seorang anak SD bercerita tentang sebuah gua yang indah di dekat rumahnya. Peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1974-1975 menurut Mbah SIska

Namun, ada juga versi lain dari Gua Maria Tritis. Mbah Siska menjelaskan, Romo Hardja ingin mengadakan misa di kawasan Tritis. Ingin tampil beda, bocah lelaki itu menyarankan misa di Gua Tritis. Namun dari dua cerita tersebut, pada akhirnya sekelompok orang dari Paroki Wonosari datang ke gua tersebut. Menurut informasi dari berbagai sumber, bocah itu bernama Sanjaya Giring.

Terkesan dengan keindahan alam Gua Tritis, Romo Hardja mengajak warga untuk membersihkan gua tersebut. Sejak saat itu, gua tersebut menjadi tempat berdoa bagi umat Katolik. Terkadang ada juga mistikus yang masih bersemedi di dalam gua bersama para pemujanya.

Baru pada tahun 1977, Goa Tritis diresmikan sebagai tempat ziarah oleh Gereja Katolik. Kemudian pembangunan dilanjutkan hingga direstui oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko PR. Hanya beberapa bulan berlalu, pandemi berhenti dan ziarah ke Gua Maria Tritis ditutup.

Mbah Siska menceritakan bagaimana dirinya dan ayahnya rutin berziarah dan membersihkan lokasi gua. “Sejak bapak saya meninggal, saya terus bersih-bersih dan sholat di sini,” tambah Mbah Siska. Diakuinya, sejak gua dibersihkan oleh Romo Hardja hingga saat ini, ia selalu datang untuk berdoa dan membersihkan area Gua Maria Tritis.

Menurut Mbah Siska, keberadaan goa ini juga membantu masyarakat sekitar, terutama sejak pandemi COVID-19. Masyarakat bisa menjual untuk para peziarah, baik makanan maupun perbekalan doa. “Saya percaya, Tuhan Yesus sangat ingin menyelamatkan orang-orang di Tritis, apapun agamanya,” kata Mbah Siska sambil mendongak.

Rekan-rekan saya dan saya berpamitan dengan Mbah Siska. Hanya mengucapkan selamat tinggal, tiba-tiba hujan. Kami bingung, bagaimana kami bisa melewati hujan deras ini. Mbah Siska menepuk pundakku dan berkata, “Papapa mas, aku akan berada di bawah payung pengemudi.”

Dan memang benar, pengemudi yang telah menunggu di seberang gua datang kepada kami dengan membawa payung. Saya, Dyah, dan Cicil bisa segera menyusul rekan-rekan kami yang menunggu di area toilet umum. Setelah berdiskusi tentang hujan yang tak kunjung reda, kami meminta pemandu untuk membantu kami sampai di tempat parkir.

Saya di bawah payung Bu Marsini (47). Dalam perjalanannya, Bu Marsini banyak bercerita tentang bagaimana keberadaan Gua Maria Tritis membantu kehidupan masyarakat sekitar. “Pandemi corona benar-benar membunuh mata pencaharian kami. Banyak toko kami yang tutup sejak corona,” kata Ibu Marsini.

Namun, dengan adanya Gua Maria Tritis, masyarakat bisa berjualan untuk peziarah. Selain itu Bu Marsini dan beberapa ibu lainnya juga bisa menjadi guide dan menyewa jasa ojek payung. “Tapi kami mendasarkan pada ketulusan emas. Kami tidak memungut biaya,” kata Bu Marsini.

Saat saya tanya tentang kondisi jalan yang tampak rusak, Bu Marsini menjelaskan pembangunan yang sedang berlangsung. Rute yang dibongkar ini diperuntukan bagi jemaah haji lansia dan difabel. Harapannya, para peziarah berkebutuhan khusus ini bisa mengunjungi gua tersebut tanpa terhalang oleh tangga. Sayangnya, pandemi menghambat pembangunan kawasan jalan ini.

Setibanya di area parkir, hujan reda. Dyah juga berbisik kepada saya, “Sepertinya ini cara Tuhan untuk kita berbagi dengan pemandu.” Kami langsung berpamitan sambil memberikan sedikit fee untuk jasa shading kami. Saat kami berkendara, semua pengemudi mengucapkan selamat tinggal dengan gembira.

Saat di dalam mobil, saya bercerita tentang lagu misterius itu. Semua penumpang menyuruh saya berhenti bicara karena takut. Hanya Dyah yang mendengarkan lalu berkata, “Bukan hanya kamu yang mendapatkan acara spiritual, saya juga.” Dyah langsung menunjukkan foto di area patung Bunda Maria yang membuatku terpana.

Namun, Gua Maria Tritis bukan sekadar tempat berdoa. Tempat tersebut juga menjadi tempat harapan bagi masyarakat sekitar.