KAB BOGOR ,-Jika Anda melintas pagi-pagi di Dramaga, aroma yang menyambut bukan asap knalpot, melainkan wangi tanah basah yang baru dicangkul. Di sanalah, di bawah bayang-bayang gagah Gunung Salak, sepetak harapan sedang tumbuh. Namanya sederhana: ubi jalar.
Tapi jangan salah. Di tangan orang-orang Dramaga, umbi yang sering dianggap “makanan kelas dua” ini sedang naik kasta menjadi simbol perlawanan.
Perlawanan terhadap apa? Terhadap alih fungsi lahan yang rakus, terhadap rantai tengkulak yang mencekik, dan terhadap anggapan bahwa anak muda tak mau lagi kotor-kotoran di sawah.
Sebuah Brand yang Lahir dari Kegelisahan Saepul Adha, Wakil Ketua Bidang Perdesaan, Koperasi dan Ketahanan Pangan KNPI Dramaga, yang pertama kali meresahkan hal ini. Dua tahun lalu, ia melihat petani ubi Dramaga panen melimpah, tapi harga jatuh bahkan menjadi saksi “dibuangnya Ubi di aliran sungai” karena biaya operasional tinggi dan harga jualnya sangat rendah, bahkan lebih memilih mengamankan karungnya daripada hasil panennya
“Kita punya Brand Ubi Gunung Salak yang mewadahi dan menjaga laju pembangunan pertanian di Bogor, terutama ubi jalar,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi maknanya dalam. Ubi Gunung Salak bukan sekadar stiker di karung. Ia adalah sistem. Memangkas jalur distribusi yang panjang, membuat standarisasi mutu untuk Ubi Ungu, Ubi Madu Cilembu, Ubi Jepang, hingga Ubi Golden, dan yang paling penting: memberi kepastian harga.
Kini, brand itu sudah dilirik perusahaan-perusahaan besar. Ubi dari Bogor tidak hanya dijual kiloan di pasar induk atau pinggiran jalan, tapi diserap sebagai produk pertanian di super market, ekspor bahkan bahan baku premium di hotel, restoran dan katering.
Satu Hektar, Satu Janji, dan Sebuah Traktor Apa yang membuat gerakan ini berbeda adalah ia tidak berhenti di wacana. Kang Uchon, Ketua KNPI Dramaga, tidak banyak bicara. Ia langsung menyiapkan 1 hektar lahan percontohan. Lahan itu akan menjadi laboratorium hidup.
“Kita sebagai Pemuda dan Santri terus membangun bangsa dimulai dari Desa, salahsatunya dengan Pembangunan Pertanian Perdesaan di wilayah Dramaga,” timpal Enjang, Sekjend KNPI Dramaga, menguatkan visi itu.
Visi itu langsung disambut. Untuk menggenjot produksi, KNPI sudah masuk dalam “daftar menu” program kerja resmi: pelatihan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) bersama Kementerian Pertanian.
Di sinilah kejutan datang. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Pejuang Demokrasi (Bapeksi), Bahroji, menyatakan akan menindaklanjuti potensi tersebut dan berupaya dapat memfasilitasi bantuan Traktor Zonder. Bukan bantuan simbolis, tapi mesin yang akan benar-benar membelah tanah dan mengefektifkan pengolahan lahan . Dari organisasi demokrasi untuk kedaulatan pangan. Semoga.
Di Parit yang Sama, Doa yang Sama
Namun, potret paling jujur dari semua ini ada di parit-parit sawah itu sendiri. Lihatlah. Seorang petani tua dengan caping anyaman mengajarkan cara membaca arah angin kepada seorang pemuda berjaket KNPI. Di sebelahnya, seorang santri dengan sarung digulung sampai lutut, khusyuk mencangkul sambil sesekali melafalkan doa. Tidak ada sekat. Di sini, petani adalah guru alam, santri adalah penjaga keberkahan lewat konsep fardhu kifayah, dan pemuda adalah jembatan teknologi dan pasar digital. Inilah Segitiga Emas Kedaulatan Pangan yang sesungguhnya.
Sabiludin petani muda dari Desa Sukawening dan Hendi dari Desa Petir membersamai Ubi Gunung Salak membangun jalan menuju Pasar Dunia dari Dramaga. Mimpi mereka tidak kecil. Dengan IPB University yang berada tepat di jantung Dramaga, kolaborasi riset sudah terjalin.
“Alhamdulillah kami dari Ubi Gunung Salak pernah berkomunikasi dan berkomitmen bersama para petani di ATP IPB untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas Ubi Jalar Bogor dan Jawa Barat,” pungkas Saepul.
Dengan pasar raksasa nasional dan internasional di depan mata, Dramaga tidak lagi hanya menjadi penyangga Jakarta. Ia sedang menyiapkan diri menjadi lumbung.
Dari lumpur Dramaga, dari tangan santri, petani dan pemuda, sebutir ubi jalar kini bersuara lantang: kedaulatan bangsa dimulai saat pemudanya berani kembali memeluk bumi. (Gawarudgadha – red. Ubi Gunung Salak)

