• Rab. Apr 8th, 2026

    Pendekatan Seni dan Teknologi Diperkenalkan untuk Menghidupkan Narasi Manusia Purba

    Byredaksi

    Mar 6, 2026

    detiknewsone.com

    JAKARTA,-Inovasi dalam penyajian sejarah manusia purba diperkenalkan melalui seminar dan pameran karya bertajuk “Menghidupkan Fosil Manusia Purba Menggunakan Bit Arrangement di Museum Arkeologi Sangiran.” Kegiatan tersebut dipresentasikan oleh akademisi sekaligus seniman Dr. Sudibyo di Teater Luwes, Taman Ismail Marzuki, Jumat (6/3/2026).

    Dalam paparannya, Sudibyo menawarkan pendekatan baru dalam komunikasi museum dengan memadukan seni pertunjukan realis dan teknologi digital imersif. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi pengunjung.

    Menurut Sudibyo, selama ini museum umumnya menyajikan informasi melalui artefak dan penjelasan teks. Model tersebut dinilai belum sepenuhnya menghadirkan pengalaman yang mampu menghidupkan narasi sejarah.

    Melalui metode bit arrangement, yaitu teknik dramaturgi yang membangun karakter melalui unit-unit tindakan dramatis, fosil manusia purba direkonstruksi menjadi tokoh yang memiliki tujuan, konflik, serta perjalanan cerita.

    Konsep tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk film tiga dimensi yang diproyeksikan dalam format bioskop 4D di ruang pertunjukan museum.

    Dalam rancangan proyek ini, fosil yang tersimpan di Museum Arkeologi Sangiran tidak hanya ditampilkan sebagai benda purbakala, tetapi juga menjadi bagian dari narasi visual yang dapat menghadirkan pengalaman emosional bagi pengunjung.

    Program ini dikembangkan melalui pendekatan multidisipliner dengan menggabungkan riset antropologi dan sejarah, seni pertunjukan, animasi digital, kecerdasan buatan, serta teknologi visual imersif.

    Tahapan pengembangannya meliputi penelitian ilmiah tentang manusia purba, penyusunan narasi dramatik, produksi film edukatif, hingga integrasi sistem pertunjukan digital di ruang museum.

    Melalui pendekatan tersebut diharapkan lahir model komunikasi museum berbasis performatif-digital yang mampu memperkaya cara masyarakat memahami sejarah manusia.

    Selain itu, konsep ini juga diarahkan untuk memperkuat peran Museum Arkeologi Sangiran sebagai living museum, yaitu ruang pembelajaran yang tidak hanya menyimpan artefak, tetapi juga menghadirkan pengalaman edukatif yang lebih hidup bagi publik.   (***/gr)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *