Mahasiswa Universitas Hukum Muhammadiyah, Andi R,-Foto-aus
BATU BARA,-81 tahun sudah Indonesia merdeka. Tapi ironisnya, di usia yang sudah senja ini, kita justru sedang dijajah kembali. Bukan oleh tentara, tapi oleh lupa. Lupa pada adat. Lupa pada budaya sendiri.
Lihat sekitar kita. Perayaan 17 Agustus sekarang isinya lomba-lomba seremonial. Setelah itu selesai. Adat…? Budaya…?. Hanya jadi pajangan saat ada tamu. Sekolah-sekolah sibuk mengejar kurikulum, tapi pelajaran muatan lokal dan kesenian daerah dikesampingkan. Ini yang di ungkapkan kan oleh seorang mahasiswa universitas Hukum Muhammadiyah Sumatera Utara, Andi R /c SH. M.H
“Menurutnya saat ini Pemerintah gencar promosi wisata budaya, tapi di desa-desa penari dan pemusik adat hidup pas-pasan. Anak muda lebih bangga menghapal lirik lagu luar, tapi tidak hafal pantun dari daerahnya.
“Ini bahaya. Karena kalau budaya mati, maka jati diri bangsa juga mati. Kemerdekaan yang kita rebut dengan darah dan air mata akan sia-sia jika generasi penerusnya tidak tahu lagi siapa dirinya “ujar Andi.
81 tahun merdeka harus jadi momentum. Pemerintah wajib serius menganggarkan pelestarian budaya. Sekolah wajib menghidupkan ekstrakurikuler seni daerah. Media wajib memberi ruang lebih untuk konten budaya lokal. Dan kita, masyarakat, wajib jadi garda terdepan.
Jangan biarkan 100 tahun Indonesia merdeka nanti, anak cucu kita bertanya: “Budaya kita dulu seperti apa, Pak…..?” Ujar Andi
Merdeka harus lengkap. Merdeka politik, merdeka ekonomi, dan merdeka dalam budaya”,tegas Andi. (aus)

