Komunitas Sarapala, Foto- Syaeful Adha
CIANJUR,-Kawasan Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, menjadi lokasi pertemuan komunitas Sarapala dalam kegiatan Sarapala AUM (Authority Upgrade Management), 26-27 September 2026. Pertemuan tersebut membahas pemikiran tentang “Cara Pandang Ki Sunda” yang merujuk pada Ensiklopedia Ki Sunda serta keberlanjutan aktivitas tradisi di lingkungan Sarapala.
Kegiatan diikuti perwakilan komunitas Sarapala dari sejumlah wilayah. Selain menjadi forum refleksi dan pembekalan mengenai pengelolaan otoritas spiritual lokal, pertemuan tersebut juga menjadi ruang konsolidasi bagi pengemban tradisi di berbagai daerah.
Salah satu agenda utama adalah penyampaian amanat dari Abah Tapa Umbara, Sesepuh sekaligus Pangadeg atau pendiri Sarapala. Amanat tersebut disampaikan oleh Ambu Tapa Umbara. Dalam amanat itu, keberlanjutan tiga aktivitas yang menjadi fondasi Sarapala, yakni Manah, Silat, dan Ngaji, ditekankan kepada seluruh anggota.
Ketiga aktivitas tersebut diarahkan untuk terus dijalankan dan didalami, baik sebagai bagian dari disiplin pribadi maupun kegiatan bersama di lingkungan komunitas. Menurutnya Sarapala, Manah, Silat, dan Ngaji merupakan bagian dari upaya menerapkan Cara Pandang Ki Sunda yang menempatkan hubungan antara jiwa, raga, dan semesta sebagai satu kesatuan. Pesan tersebut juga ditujukan kepada 15 Kawargian atau simpul komunitas Sarapala yang saat ini berada di sejumlah wilayah di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Pupuhu Ageung Sarapala, Teguh, dalam kesempatan tersebut menyampaikan pentingnya proses “kalibrasi” pemahaman agar Sarapala dapat dipahami bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga sebagai jalan hidup dan paradigma.
“Minimal secara definisi dan uraiannya, masyarakat bisa mengetahui dan semoga bisa memahami bahwa Sarapala tidak hanya hadir sebagai sebuah simbol semata, melainkan secara abstrak dan bahkan sebagai sebuah paradigma hidup,” kata Teguh.
Dalam rangkaian acara tersebut juga dilakukan penyerahan sejumlah atribut yang disebut sebagai “Silib”, yakni Gondewa atau busur, Jamparing atau anak panah, serta Pin Emas Badega Sarapala. Atribut tersebut diserahkan oleh Ambu Tapa Umbara dan Teguh kepada dua pengurus wilayah, yakni Adha dari Kawargian Bogor Raya dan Denjaka dari Kawargian Bandung Raya. Penyerahan tersebut menjadi bagian dari mandat organisasi kepada pengurus wilayah untuk menjalankan aktivitas komunitas di daerah masing-masing.
Sementara itu, Amud dari Badega Sarapala yang bertindak sebagai moderator mengajak peserta untuk membuka diri terhadap pengetahuan baru. Ia menggunakan ungkapan “mengosongkan gelas” sebagai metafora untuk menerima pembelajaran sekaligus mendorong inovasi.
Rangkaian Sarapala AUM tidak hanya berlangsung di kawasan Gunung Padang. Peserta juga mengikuti Diskusi Literasi dan Evaluasi Produksi Gondewa Khas Sarapala di Panonoban Kawargian Cianjur, Cipanas.
Diskusi selama sekitar 2 jam tersebut dipantik oleh Abah Aang Sarapala dan Abah Ema Walet Basura. Pembahasan mencakup standardisasi, filosofi pembuatan, serta keberlanjutan produksi gondewa yang digunakan dalam aktivitas Manah di lingkungan masing-masing Kawargian.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mengevaluasi perangkat tradisi dan menyelaraskannya dengan pemahaman yang berkembang di dalam komunitas.
Melalui rangkaian diskusi mengenai Ensiklopedia Ki Sunda, penguatan kepengurusan wilayah, serta evaluasi perangkat tradisi, Sarapala menegaskan kembali upaya menjaga keberlanjutan Manah, Silat, dan Ngaji sebagai tiga aktivitas yang menjadi bagian penting dalam kehidupan komunitasnya. (sa)

