BOGOR,-Cara unik dilakukan oleh SMP Bhakti Nugraha Bogor dalam melestarikan kebudayaan lokal. Tidak lagi bertumpu pada hafalan teks sejarah dari buku konvensional, puluhan siswa diajak menyelami kedalaman filosofi lokal secara visual lewat film pendek berjudul “UING – Jati Diri Sunda”.
Suasana kelas Seni Budaya di sekolah yang terletak di Tenjolaya, Kabupaten Bogor tersebut mendadak riuh pada Jum’at (16/10/2026).
Sebelum masuk ke materi inti, para siswa tampak antusias mengikuti permainan penyegar suasana bernama ‘Game of Line’ yang dirancang oleh tim Demography Culture Study (DCS) Center.
Proses menonton bareng (nobar) ini terasa modern karena memanfaatkan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) Merah Putih. Perangkat layar sentuh cerdas berbasis Android ini merupakan bantuan dari Kemendikdasmen.
Kepala Sekolah SMP Bhakti Nugraha, Angga Firman Firdaus, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan bagian dari program inovasi mingguan sekolah.
“Kami memprogramkan Pembelajaran Seni Budaya yang interaktif pada hari Jumat setiap minggunya,” ujar Angga kepada tim media, Jum’at (16/10).
Angga menegaskan pentingnya pemahaman sejarah bagi generasi muda agar tidak lupa pada akar budayanya. “Kita memiliki peradaban yang hebat, dan nilai-nilai luhur itulah yang disampaikan secara apik di dalam film UING,” tambahnya.
Melestarikan Budaya Dengan Nobar
Film “UING – Jati Diri Sunda” merupakan produksi Kreasinema Bandung. Film ini membawa pesan segar bagi dunia pendidikan bahwa melestarikan kebudayaan tidak selamanya harus kaku di atas panggung tradisional atau saung. Identitas lokal kini dapat dikemas secara modern agar lebih dekat dengan Generasi Z.
Meski disajikan lewat medium modern, karakteristik budaya Sunda dalam film ini tetap terasa kental. Penonton disuguhi penggunaan bahasa daerah yang fasih, pakaian adat yang bersahaja, serta atmosfer perkampungan yang autentik. Sang sutradara memilih pendekatan visual yang mendalam dengan menonjolkan nilai moral lewat kesunyian (diam), gestur, dan kekuatan rasa di setiap fragmen adegan.
Di balik alur ceritanya, daya tarik utama film ini bertumpu pada gerakan silat sera buhun—pencak silat tradisional Sunda. Di sini, silat tak sekadar menjadi seni bela diri fisik atau koreografi laga, melainkan sebuah manifestasi filosofi hidup.
Warisan Abah Tapa Umbara dan Filosofi AUM sosok sentral yang menggerakkan ruh film ini adalah almarhum Abah Tapa Umbara. Bertindak sebagai pemeran utama sekaligus representasi nyata dari kebudayaan Sunda, beliau memerankan figur kasepuhan (sesepuh) yang menjadi simbol penjaga garis keturunan dan warisan leluhur.
Di dunia nyata, Abah Tapa Umbara merupakan Sesepuh Sunda dan Maestro Budaya yang mendirikan institusi Sarapala di Indonesia. Meski beliau telah wafat pada 11 April 2025 lalu, karya dan warisan pemikirannya tetap hidup dan diangkat dalam ide utama film ini.
Almarhum menghidupkan kembali tiga pilar utama sebagai panduan hidup manusia agar tidak kehilangan arah dan asal-usul (purwadaksi):
• Manah (Olah Rasa & Fokus): Diwujudkan lewat seni panahan tradisional (jamparingan) sebagai latihan ketenangan hati (tumaninah) dan mengendalikan ego.
• Silat (Olah Fisik & Bela Diri): Ditujukan sebagai benteng pertahanan diri. Almarhum meninggalkan pesan mendalam: “mihape silat sangkan diri teu poho kanu purwadaksi” (titip silat agar diri kita tidak lupa pada asal-usul dan jati diri sebagai manusia).
• Ngaji (Olah Spiritual & Pengetahuan): Tidak sekadar membaca kitab suci, tapi juga “mengaji diri” (introspeksi) dan membaca fenomena alam semesta.
Perwakilan dari DCS Center, Saepul Adha, menjelaskan bahwa nilai-nilai yang ditinggalkan oleh Abah Tapa Umbara memiliki relevansi spiritual dan manajerial yang sangat luas.
“Sarapala mengangkat tiga nilai kehidupan; Manah, Silat, Ngaji. Semoga kita bisa terus ber-AUM; menetapkan Authority kita sebagai khalifah fil ard, terus melakukan Upgrade terutama dalam pemahaman ilmu, serta melatih Management terbaik sebagai hamba Allah yang hidup berdampingan bersama alam semesta,” papar Saepul.
Respons Positif Gen Z
Pesan-pesan berlapis dalam film tersebut rupanya langsung meresap ke benak para siswa. Usai pemutaran film, Ardi, salah satu siswa SMP Bhakti Nugraha, merefleksikan apa yang ia tonton dengan sederhana namun filosofis.
“Jangan sampai kita punya musuh, kita jalankan hidup sebaik-baiknya,” ungkap Ardi polos.Tak hanya pasif menonton, pengalaman interaktif hari itu juga dilengkapi dengan praktik langsung di lapangan. Beberapa pelajar tampak sibuk mendokumentasikan seluruh rangkaian kegiatan menggunakan kamera DSLR Canon EOS 1500D, sekaligus belajar mengasah kemampuan fotografi dan videografi mereka.
Lewat integrasi layar digital dan pemaknaan budaya yang mendalam, DCS Center bersama SMP Bhakti Nugraha berhasil membuktikan bahwa memori kolektif dan kearifan lokal Sunda mampu tumbuh dan mekar dengan cara baru di kepala generasi muda. (sa)

