BOGOR,-Saepul Adha mengajak kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk tidak berhenti pada tahap mengetahui, tetapi juga mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan saat mengisi materi kebudayaan dalam Latihan Kader I (LK I) Komisariat Fakultas Agama Islam (FAI) HMI Cabang Kota Bogor.

Kegiatan yang diikuti 21 peserta tersebut berlangsung di Villa Zaitun, Cisarua, Kabupaten Bogor, Minggu (18/10/2026). Dalam kesempatan itu, Saepul memperkenalkan konsep AUM (Authority, Upgrade, Management) sebagai kerangka pengembangan manusia untuk membangun kapasitas, karakter, dan kemampuan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pendidikan tidak boleh berhenti pada urusan tahu atau tidak tahu,” kata Saepul di hadapan peserta LK I.
Pria yang akrab disapa Bang Adha itu menjelaskan bahwa pendidikan semestinya menjadi proses pembentukan manusia secara utuh. Kemampuan berpikir, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan pembentukan sikap, rasa, karakter, dan tindakan nyata.
Memahami Makna Atikan dalam Kebudayaan Sunda.
Dalam pemaparannya, Saepul mengangkat istilah atikan dalam bahasa Sunda sebagai pintu masuk untuk memahami pendidikan melalui perspektif kebudayaan lokal.
Menurutnya, atikan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar proses transfer pengetahuan. Pendidikan tidak hanya bertujuan membuat seseorang mengetahui sesuatu, tetapi juga membentuk cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.
Bagi kader HMI yang berproses di tatar Sunda, nilai-nilai kebudayaan lokal dapat menjadi pijakan dalam membangun karakter dan kepribadian. Kebudayaan tidak sekadar menjadi warisan yang dipertahankan, tetapi juga sumber nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Gagasan tersebut turut dihubungkan dengan tradisi keilmuan Islam. Saepul menyinggung perintah Iqra’ dalam wahyu pertama Al-Qur’an sebagai landasan pentingnya membaca dan memahami, sekaligus membangun kesadaran manusia terhadap Tuhan.
Ia juga mengangkat tiga konsep pendidikan dalam tradisi Islam, yakni ta’lim sebagai proses pengajaran ilmu, tarbiyah sebagai proses pemeliharaan dan pertumbuhan, serta ta’dib sebagai pembentukan adab. Ketiganya, menurutnya, perlu berjalan beriringan agar pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia berpengetahuan, tetapi juga berkarakter.
Sebagaimana ditekankan dalam pemaparannya, ilmu perlu disertai adab agar tidak melahirkan kesombongan. Sebaliknya, adab juga perlu ditopang pengetahuan agar seseorang mampu memahami persoalan dan bertindak secara tepat.
Tujuh Sifat Manusia Berdaya.
Saepul kemudian memaparkan tujuh sifat manusia yang ingin dibentuk melalui proses atikan, yaitu berilmu, berkarakter, berdaya, peduli, bertanggung jawab di dunia dan akhirat, kreatif, serta bermanfaat.
Ia menjelaskan, bahwa pembentukan sifat-sifat tersebut tidak cukup dilakukan melalui hafalan atau ceramah satu arah. Pengetahuan dapat diperoleh melalui buku dan pembelajaran, tetapi karakter membutuhkan keteladanan dan pembiasaan.
Demikian pula, kemampuan menghadapi persoalan perlu diasah melalui pengalaman langsung, sedangkan kepedulian tumbuh melalui keterlibatan dengan kehidupan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, organisasi kemahasiswaan seperti HMI dapat menjadi ruang pembelajaran bagi kader untuk mengembangkan diri, melatih tanggung jawab, dan menerapkan pengetahuan melalui tindakan nyata.
Saepul juga mengangkat falsafah Sunda cageur, bageur, bener, pinter, dan singer. Falsafah ini menggambarkan manusia yang sehat lahir dan batin, berbudi baik, benar dalam tindakan, cerdas, serta tanggap terhadap keadaan di sekitarnya.
Nilai-nilai tersebut memperkuat pandangan bahwa manusia berdaya bukan hanya mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga mereka yang mampu menjaga karakter serta memberikan kontribusi bagi lingkungannya.
Sarapala, Ruang Pengembangan Diri Berbasis Budaya.
Selain menyampaikan materi kebudayaan, Saepul memperkenalkan peluang bagi kader HMI untuk mengikuti kegiatan pengembangan diri melalui Sarapala di Dramaga, Kabupaten Bogor.
Kegiatan tersebut memadukan aktivitas memanah, silat, dan mengaji sebagai ruang untuk mengembangkan keterampilan sekaligus memperkuat kedisiplinan dan nilai keagamaan.
Melalui kegiatan ini, kader diharapkan memperoleh pengalaman belajar di luar forum formal perkaderan. Pengembangan diri tidak hanya berlangsung melalui diskusi dan penyampaian materi, tetapi juga melalui aktivitas yang menuntut latihan, konsistensi, dan penerapan nilai dalam kehidupan nyata.
Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan pendidikan yang menempatkan pengembangan manusia sebagai proses berkelanjutan. Pengetahuan perlu dikembangkan menjadi kemampuan, karakter, kreativitas, dan tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
LK I Membekali Peserta dengan Materi Dasar Perkaderan
Selain materi kebudayaan, Latihan Kader I Komisariat FAI HMI Cabang Kota Bogor membekali peserta dengan sejumlah materi dasar perkaderan.
Materi tersebut meliputi:
1.Sejarah Perjuangan HMI dan Sejarah Peradaban Islam.
2.Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI.
3.Konstitusi HMI.
4.Mission HMI.
5.Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi (KMO).
Materi-materi tersebut menjadi bagian dari proses pengenalan sejarah, nilai dasar, misi, serta tata kelola organisasi kepada para calon kader HMI.
Ketua Komisariat FAI HMI, Muadz Noorkasih, menyampaikan terima kasih kepada Saepul Adha atas kesediaannya mengisi materi kebudayaan dalam kegiatan tersebut.
Ia berharap proses perkaderan dapat mendorong lahirnya kader-kader yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semoga kader HMI semakin bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Muadz.
Melalui materi kebudayaan dan pengembangan diri, para peserta diharapkan tidak hanya memahami sejarah serta nilai-nilai organisasi, tetapi juga mampu membangun karakter, meningkatkan kapasitas, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, perkaderan bukan sekadar proses memperoleh pengetahuan, melainkan juga ruang untuk membentuk manusia yang mampu mengembangkan dirinya dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Penulis: Hariri, Kader HMI Komisariat FAI, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor.

