• Sel. Nov 3rd, 2026

    Sarapala AUM Menjadi Ruang Kultivasi Karinding Rasa Merawat Bunyi, Menyelami Makna

    Byredaksi

    Nov 3, 2026

    detiknewsone.com

    BOGOR,-Di balik bilah bambu kecil bernama karinding, tersimpan perjalanan panjang tentang rasa, kesabaran, kebudayaan, dan pencarian makna kehidupan. Bagi Deri Kurniawan, karinding bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan medium untuk mengenali diri, alam, dan Sang Pencipta.

    Bentuknya sederhana. Hanya sebilah bambu kecil dengan bagian tertentu yang dirancang sedemikian rupa agar mampu menghasilkan getaran suara. Sekilas, mungkin tak banyak orang menyangka benda tersebut dapat melahirkan bunyi yang beragam, bahkan membentuk harmoni ketika dimainkan bersama alat musik tradisional lainnya.

    Namun, bagi Deri Kurniawan, yang akrab disapa Dey, karinding menyimpan sesuatu yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan bunyi. Di balik kesederhanaan bentuknya, terdapat ruang pembelajaran yang menghubungkan manusia dengan rasa, alam, dan kehidupan.
    Dey merupakan salah satu pelaku sekaligus pengrajin alat musik karinding yang menaruh perhatian pada pengembangan musik tradisional berbahan bambu.

    Perhatiannya tidak berhenti pada karinding. Ia juga mengenal dan menggeluti berbagai instrumen tradisional lainnya, seperti celempung renteng, celempung indung, suling, gong yup, saron, dan sejumlah instrumen bambu lainnya.

    Baginya, karinding memiliki keistimewaan tersendiri. Ia memandang karinding sebagai realisasi rasa dalam bentuk dan suara. Ketika alat musik tersebut dimainkan, terjadi proses pengolahan lahir dan batin yang kemudian melahirkan getaran. Getaran itu bukan hanya terdengar oleh telinga, tetapi juga dapat dirasakan oleh pemain maupun pendengarnya.

    Ada semacam resonansi yang terjadi. Sebuah pengalaman ketika bunyi tidak lagi sekadar menjadi suara, melainkan menjadi medium penyampaian rasa.Pandangan tersebut tidak hadir begitu saja. Semuanya bermula dari rasa penasaran yang kemudian berkembang menjadi perjalanan panjang.

    Dari Rasa Penasaran Menuju Pencarian Makna.

    Perkenalan Dey dengan karinding berawal dari pertemuannya dengan seseorang yang lebih dahulu mengenal alat musik tersebut. Sebagai manusia yang memiliki dorongan untuk bergerak, berinteraksi, dan mencari pengalaman baru, pertemuan itu menjadi pintu masuk bagi dirinya untuk mengenal dunia karinding. Rasa penasaran yang muncul tidak dibiarkan berhenti sebagai ketertarikan sesaat. Keesokan harinya, ia mulai memberanikan diri untuk mencoba memainkan sekaligus mempelajari cara membuat karinding.

    Baginya, mengenal karinding tidak cukup hanya dengan mengetahui bentuk, teknik permainan, atau cara menghasilkan bunyi. Ada sesuatu yang ingin ia temukan lebih jauh, yakni makna yang tersembunyi di balik alat musik tersebut. Berbagai cara ditempuh untuk menjawab rasa penasarannya. Ia mulai memperdalam keterampilan memainkan karinding, mempelajari proses pembuatannya, hingga mencoba memahami hubungan antara alat musik, manusia, dan pengalaman batin.

    Seiring waktu, proses tersebut melahirkan kesan mendalam. Dey menyadari bahwa sebuah instrumen berukuran kecil ternyata mampu memberikan pengalaman dan pelajaran yang begitu luas.

    Karinding, dalam perjalanannya, mengajarkan kesabaran, ketenangan, keteguhan, keyakinan, dan kekuatan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya ditemukan ketika seseorang mempelajari teknik permainan, tetapi juga tumbuh melalui proses penghayatan. Ia melihat bahwa bambu bukan sekadar bahan baku alat musik. Di dalam proses pengolahannya terdapat nilai budaya dan pembelajaran kehidupan yang dapat memperkuat nilai-nilai kebaikan, termasuk nilai yang bersumber dari ajaran agama.

    Dari situlah muncul keinginannya untuk memanifestasikan karinding agar dapat dipelajari dan dimainkan oleh berbagai kalangan. Mulai dari anak usia sekolah dasar, pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, hingga masyarakat dewasa. Upaya tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan bentuk, kualitas instrumen, serta pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan jenjang dan kemampuan masing-masing peserta. Baginya, karinding harus memiliki ruang untuk tumbuh dan diwariskan tanpa kehilangan nilai yang menjadi dasarnya.

    Sarapala dan Pertemuan yang Mengubah Arah Perjalanan.

    Perjalanan Dey kemudian menemukan babak penting sekitar akhir tahun 2015. Pada masa itu, ia dipertemukan dengan sosok yang kemudian memiliki pengaruh besar dalam perjalanan hidup dan pemahamannya tentang karinding, yakni Abah Tapa Umbara.
    Pertemuan tersebut bukan sekadar perkenalan antara seorang pelaku seni dengan seorang sesepuh. Bagi Dey, mengenal Abah Tapa Umbara menjadi pengalaman yang membawa perubahan, baik secara langsung maupun perlahan melalui proses keseharian.

    Dari sosok Abah, ia belajar banyak hal. Bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga melalui praktik dan keteladanan. Seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari bahwa kehadiran Abah Tapa Umbara memberikan pengaruh yang mendalam terhadap cara pandangnya dalam menjalani kehidupan.

    Dalam perjalanan itulah Abah Tapa Umbara memperkenalkannya pada Sarapala.Pertemuan dengan Sarapala menjadi pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dey merasakan bahwa kehadiran Abah dan Sarapala telah membawanya menemukan arah serta memberikan pegangan dalam perjalanan hidupnya. Ia bahkan mengungkapkan bahwa Sarapala dan bimbingan Abah Tapa Umbara menjadi bagian penting yang menyelamatkan dirinya dari kemungkinan tersesat dalam perjalanan kehidupan.

    Bagi Dey, Sarapala tidak cukup dipahami hanya melalui penjelasan verbal atau penilaian dari luar. Ada pengalaman personal yang membuatnya memandang Sarapala sebagai sesuatu yang istimewa. Sebuah pemaknaan yang menurutnya tidak selalu dapat diterjemahkan melalui rangkaian kata, tetapi lebih tepat dirasakan melalui pengalaman dan penghayatan.

    Di titik inilah karinding dan Sarapala bertemu dalam satu ruang pemaknaan. Keduanya menjadi bagian dari proses pembelajaran yang tidak hanya berkaitan dengan keterampilan memainkan alat musik, tetapi juga menyangkut pembentukan sikap, pengenalan diri, serta hubungan manusia dengan kehidupan.

    Merawat Karinding, Menghidupkan Rasa.

    Bagi Dey, perjalanan bersama karinding tidak semata-mata bertujuan mempertahankan keberadaan alat musik tradisional di tengah perubahan zaman. Lebih dari itu, ia ingin menghadirkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar dapat dirasakan oleh generasi yang berbeda. Karinding memiliki karakter yang unik. Untuk menghasilkan bunyi, pemain perlu memahami teknik, ketepatan, dan pengendalian diri. Namun, di balik proses teknis tersebut, terdapat pembelajaran tentang kesabaran dan kepekaan.

    Seseorang tidak cukup hanya menggerakkan alat musik dan berharap menghasilkan suara yang indah. Ia perlu menjalani proses, mengenali karakter instrumen, serta membangun hubungan antara gerak, pikiran, dan rasa. Pandangan ini pula yang mendorong Dey untuk mengembangkan karinding dalam berbagai bentuk pembelajaran dan praktik musikal. Karinding dapat berkolaborasi dengan instrumen tradisional berbahan bambu lainnya, menciptakan kemungkinan bunyi dan harmoni yang lebih luas.

    Namun, pengembangan tersebut tetap perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap akar budaya dan nilai-nilai yang menyertainya. Sebab, bagi Dey, kebudayaan bukan hanya sesuatu yang diwariskan untuk dikenang. Kebudayaan merupakan ruang hidup yang perlu dipelajari, dipraktikkan, dan dimaknai kembali sesuai perkembangan zaman.
    Ia juga menyadari bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memahami karinding maupun Sarapala. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari keberagaman manusia yang tidak perlu menjadi alasan untuk saling meniadakan.
    Justru melalui keberagaman itulah manusia dapat belajar untuk lebih terbuka, saling memahami, dan menghargai perjalanan masing-masing.

    Mengenali Diri, Alam, dan Sang Pencipta.

    Dalam mengenang perjalanan bersama Abah Tapa Umbara, Dey menyampaikan rasa terima kasih kepada sosok yang telah memberikan banyak pelajaran, baik secara lahir maupun batin. Pelajaran tersebut menjadi bekal baginya untuk memahami kehidupan melalui dua sisi yang saling berkaitan, yakni budaya dan agama.

    Ada satu pesan Abah Tapa Umbara yang terus melekat dalam ingatannya:
    “Urang mah salaku manusia kedah diajar surti ka Dirina, Alamna jeung Gustina.”

    Dalam bahasa Indonesia, ungkapan tersebut dapat dimaknai: sebagai manusia, kita harus belajar memperoleh pemahaman tentang diri sendiri, alam semesta, dan Tuhan Yang Maha Esa. Pesan itu seolah merangkum perjalanan panjang Dey bersama karinding dan Sarapala. Sebuah perjalanan yang berangkat dari rasa penasaran terhadap alat musik sederhana, kemudian berkembang menjadi pencarian makna yang lebih mendalam.

    Pada akhirnya, karinding tidak lagi hanya dipandang sebagai bilah bambu yang menghasilkan bunyi. Ia menjadi medium untuk melatih kepekaan, membangun kesabaran, merawat kebudayaan, sekaligus membuka ruang perenungan tentang kehidupan.

    Melalui Sarapala AUM, Dey menemukan ruang kultivasi untuk terus mengolah dan menghidupkan pemaknaan tersebut. Sebuah proses yang tidak berhenti pada kemampuan memainkan atau membuat alat musik, tetapi terus bergerak menuju pemahaman tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sebab, terkadang pelajaran kehidupan justru datang dari sesuatu yang paling sederhana. Dari sebilah bambu, dari getaran yang lahir di antara jari-jari, dan dari bunyi kecil yang mengajak manusia untuk kembali mendengarkan dirinya sendiri.

    Karinding mungkin kecil dalam ukuran, tetapi luas dalam makna. Dan bagi Dey, di sanalah rasa menemukan suaranya.

    Ilham Dian Mulyadi (Badega Sarapala)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *