• Sel. Nov 3rd, 2026

    Satria Atmaja Bumi, Dalang Cilik Sarapala Anom Pembawa Harum Jawa Barat di Panggung Nasional

    Byredaksi

    Nov 3, 2026

    detiknewsone.com

    JAKARTA,-Tanggal 3 November 2026 akan dicatat sebagai titik balik sejarah pemajuan kebudayaan Jawa Barat. Di tengah gegap gempita Grand Final Festival Dalang Anak Nasional ke-19 yang digelar 2-4 November 2026 di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII Jakarta, seorang anak dengan sorban dalang yang masih kebesaran di kepalanya berdiri gagah. Namanya: Satria Atmaja Bumi Anugrah.

    Ia bukan sekadar peserta nomor urut 18 dari kontingen Jawa Barat. Ia adalah Sarapala Anom; tunas muda dari filosofi Sarapala yang selama ini kita kenal: Manah, Silat, dan Ngaji.

    Di atas panggung Wayang Golek Purwa, dengan jadwal pentas Selasa pukul 14.20 – 15.00 WIB, Satria membawakan lakon yang tidak main-main: “Panca Braja Nitis”. Bukan kebetulan. Ini adalah kebenaran yang dijalankan sejak ia lahir. Apa makna 3 November bagi Jawa Barat? Dalam kerangka yang dibangun para budayawan Sunda, hari ini adalah manifestasi dari AUM – Authority Upgrade Management.

    Bukan soal kekuasaan politik. AUM adalah cara kita menaikkan otoritas kebudayaan sendiri: dari penumbuhan; menanamkan cinta wayang sejak dini, perkembangan; memberinya panggung dan pelatihan, hingga pemajuan; membawanya ke kancah nasional.

    Satria adalah bukti hidup AUM itu bekerja. Ia tumbuh bukan di sanggar mewah, tapi dalam laku harian Sarapala. Memanah melatih fokus dan rasa. Silat melatih keberanian dan adab. Ngaji melatih ruh. Ketiganya menyatu saat tangannya memainkan Golek.

    Mengapa Panca Braja Nitis? Lakon yang dipilihnya pun bukan lakon sembarangan. Panca Braja Nitis adalah kisah tentang lima kesatria yang membangun kembali peradaban dengan ilmu dan kebijaksanaan, bukan hanya dengan senjata. Lakon tentang regenerasi kepemimpinan.

    Seperti yang ia lakukan hari ini. Di usia yang masih belia, ia harus menguasai sabet, catur, karawitan, dan janturan; empat pilar pedalangan yang bahkan membuat dalang dewasa berkeringat. Namun Satria membawakannya dengan tenang, seolah wayang itu adalah perpanjangan dari tangannya sendiri.

    Festival tahun ini bukan festival biasa. Berdasarkan data resmi PEPADI Pusat, ini adalah edisi ke-19, puncak dari seleksi di seluruh Indonesia.

    Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Pusat, didukung Museum Wayang DKI Jakarta, disiarkan live di kanal PEPADI OFFICIAL.
    Puluhan dalang anak terbaik dari minimal 9 provinsi, termasuk Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Jambi, NTB, Bali, dan DKI Jakarta. Pada edisi sebelumnya (2025), tercatat 28-29 peserta bersaing ketat. Festival ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Wayang Nasional (7 November), yang telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 2003.

    Seperti dikatakan Menko PMK pada festival tahun lalu, “Wayang hidup di tangan anak muda Indonesia.” Tahun ini, tangan itu adalah tangan Satria. Jika pada 2025 Juara I diraih oleh dalang cilik dari Wonogiri dengan lakon Prabakusuma Labuh, maka 2026 adalah panggung pembuktian bahwa Jawa Barat tidak pernah kehabisan satria.

    Dari Cianjur, dari hutan bambu lahir seorang dalang cilik yang membawa nama harum Jawa Barat. Bukan dengan kebetulan, tapi dengan laku: Manah yang terarah, Silat yang beradab, dan Ngaji yang menjadi cahaya.

    Satria Atmaja Bumi Anugrah telah menancapkan patok. Bahwa regenerasi itu nyata dan wayang golek akan terus hidup.  (sa)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *