• Sen. Okt 5th, 2026

    Menanam Tenggang Rasa Lewat Aksi Lingkungan: Cerita Hangat Dari Pelataran SMP Miftahul Iman

    Byredaksi

    Okt 5, 2026

    detiknewsone.com

    KOTA BANDUNG,-Suasana riuh khas remaja di pelataran SMP Miftahul Iman, Jalan Setiabudhi No. 179/171 A, Kota Bandung, mendadak senyap. Hari itu, atmosfer sekolah terasa berbeda berkat kehadiran tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung yang membawa sebuah misi besar namun dikemas dengan cara yang sangat bersahabat.

    Di bawah langit Bandung yang cerah, sebuah spanduk bertuliskan “Harmoni Sehati: Habituasi Anak Hebat, Rajin, Mandiri, Optimis, Nasionalis, Sehat, Terampil dan Inspiratif” terbentang bukan sebagai pajangan semata. Slogan ini menjadi cetak biru nyata dalam menyiapkan generasi muda menyambut Indonesia Emas 2045.

    Menghidupkan Budaya Tepa Salira
    Saat Agus Hermawan, S.T. (Pendamping Korcam Sukasari, DLHK Kota Bandung) naik ke podium, tidak ada kesan kaku layaknya birokrasi mendiktekan aturan. Lewat pendekatan yang hangat dan interaktif, beliau justru membuka ruang diskusi yang seru mengenai keterikatan antara Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia.

    Program ini sengaja disusupkan secara fleksibel ke dalam kegiatan kokurikuler sekolah sebagai penguatan pendidikan karakter yang nyata. Tujuannya mulia: menghidupkan kembali akar budaya yang mulai luntur di kalangan remaja.

    “Kami ingin giat ini menjadi pemantik bagi saya pribadi, para guru, siswa, hingga masyarakat sekitar untuk terbiasa merawat alam. Ini adalah pengejawantahan dari tepa salira—falsafah tenggang rasa yang menjadi akar budaya Sunda dan dasar negara kita,” ujar Agus Hermawan.

    Berkat komitmen tersebut, SMP Miftahul Iman kini didorong menjadi pilot project, sebuah contoh nyata bagaimana kehidupan sekolah bisa berjalan selaras dengan kelestarian alam. Kepala Sekolah SMP Miftahul Iman, Drs. Ahmad Saleh, menyampaikan rasa syukur dan optimisme yang mendalam atas terpilihnya sekolah mereka dalam program ini. Beliau juga menaruh harapan besar pada perubahan perilaku para siswanya.

    “Kami sangat mengapresiasi langkah nyata dari DLH Kota Bandung. Program ini memberikan fondasi kuat bagi siswa untuk belajar mencintai bumi sejak dini. Melalui pembiasaan konsisten, kami yakin keterbatasan fasilitas saat ini tidak akan menjadi penghalang. Justru ini menjadi tantangan kreatif bagi kami,” ungkap Drs. Ahmad Saleh.

    Beliau juga menambahkan proyeksi penting bagi masa depan anak didiknya terkait kesadaran lingkungan.”Harapan ke depannya, siswa dapat menyadari pentingnya mengurangi sampah. Jika ada sampah, mereka bisa memilah dan mengolahnya sendiri. Dengan penuh kesadaran, siswa diharapkan mampu meregulasi diri agar peduli dengan lingkungan sekitar. Sebab, sampah yang menumpuk dan tidak diolah bisa menimbulkan banyak penyakit, ketidaknyamanan, hingga bahaya banjir,” tegas Drs. Ahmad Saleh.

    Meski menyambut program dengan tangan terbuka, pihak sekolah tetap bersikap realistis mengenai keterbatasan ruang gerak yang ada. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat. Sekolah berkomitmen penuh untuk:
    * Mengoptimalkan seluruh tenaga pendidik yang ada.
    * Merangkul masyarakat sekitar demi keberlanjutan program.
    * Berkolaborasi aktif dengan berbagai pihak yang siap menyokong gerakan ini.

    Senada dengan Kepala Sekolah, Ibu Nunung Nuryanti, S.Pd. selaku Wakasek Kurikulum, juga merasakan dampak positif yang besar dari kemitraan ini.”Alhamdulillah, kemitraan dengan DLHK Kota Bandung ini memberikan banyak pencerahan terkait bagaimana mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat. Narasumber memberikan penguatan praktis tentang cara mengelola, memilah, dan mengolah sampah agar bermanfaat lewat prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle),” jelas Ibu Nunung.

    Beliau menambahkan bahwa sekolah kini mulai diarahkan pada praktik nyata, seperti mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos dan eco-enzyme, mengubah sampah plastik menjadi ecobrick, hingga mengintip peluang ekonomi kreatif lewat program bank sampah.

    Dari Teori ke Aksi Nyata Lewat Pramuka dan Sarapala
    Uniknya, materi lingkungan yang didapat siswa tidak menguap begitu saja. Pihak sekolah mengunci materi kokurikuler ini dan membawanya langsung ke ranah praktis kepramukaan yang ditempatkan pada jadwal pamungkas kegiatan.
    Ilham Dian Mulyadi, atau yang akrab disapa Kang Amud, selaku Pembina Pramuka SMP Miftahul Iman sekaligus perwakilan Badega Sarapala, memberikan kesaksiannya mengenai perubahan positif pada anak didiknya.

    “Kami merasa sangat senang dan tergerak untuk menstimulasi pola pikir sekaligus memperkuat motorik siswa. Tujuannya jelas, membentuk karakter pribadi mereka menjadi lebih baik, dan ini merupakan implementasi nyata dari Sarapala AUM,” kata Kang Amud.

    Menurutnya, kolaborasi dengan DLH ini menjadi amunisi berharga untuk kegiatan kepanduan yang ia pimpin. Ada sinergi kuat antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi Sarapala dari tingkat kota hingga pusat demi menyiapkan Generasi Emas 2045.
    Lewat gerakan Pramuka, nilai-nilai lingkungan ini langsung diuji di lapangan. Sinergi antara kurikulum Disdik Kemendikdasmen, program DLH, serta kepanduan dirancang agar menyentuh aspek lahir dan batin siswa. Hasil akhirnya, sekolah berharap lahir karakter remaja yang efisien, fleksibel, dan mahir berkomunikasi—sebuah manifestasi dari Gerakan 7 KAIH (Karakter Anak Indonesia Hebat).

    Langkah awal yang diayunkan dari Jalan Setiabudhi ini membawa harapan besar agar kepedulian lingkungan tumbuh secara organik dan berkelanjutan, bukan sekadar letupan musiman. Sebab pada akhirnya, menyiapkan masa depan bangsa yang hebat harus dimulai dari hal paling dekat: menjaga tanah tempat kita berpijak.   (sa)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *