BOGOR,-Momentum Hari Santri Nasional menjadi ajang refleksi penuh makna bagi ratusan siswa SMP Bhakti Nugraha Bogor. Alih-alih merayakannya dengan kegiatan seremonial biasa, pihak sekolah memilih jalan edukatif yang menyentuh hati dengan menggelar nonton bareng dan apresiasi film di Aula Masjid Sekolah Bhakti Nugraha Bogor, Jumat (23 Oktober 2026).
Mereka mengajak para siswa belajar langsung dari mahakarya perfilman Indonesia, “Laskar Pelangi”, sebuah karya monumental yang diproduseri oleh Mira Lesmana dan disutradarai oleh Riri Riza.
Kegiatan apresiasi film yang berlangsung khidmat ini dipandu langsung oleh Saepul Adha sebagai pendamping sekaligus fasilitator diskusi. Sepanjang pemutaran film, Saepul mengajak para siswa menelisik lebih dalam, mereview, dan membedah berbagai pesan moral kuat yang disampaikan secara gamblang lewat dialog antar-karakter di dalam adegan-adegan ikonik.
Kepala Sekolah SMP Bhakti Nugraha, Angga Firman Firdaus, menegaskan pentingnya esensi dari proses belajar itu sendiri. Menurutnya, keterbatasan fisik sekolah jangan sampai menyurutkan semangat mencari ilmu.
“Bukan soal papan ataupun gedung bertingkat sekolah itu, tapi sebagai murid kita menempuh pendidikan karena kesadaran akan perlunya memberikan kekuatan menjalankan dan meneruskan kebaikan-kebaikan, sebagaimana disajikan dalam film Laskar Pelangi,” ujar Angga Firman Firdaus dalam sambutannya yang menggugah semangat para siswa di dalam aula masjid sekolah.
Senada dengan kepala sekolah, Saepul Adha di sela-sela memandu jalannya diskusi menyampaikan bahwa nilai-nilai perjuangan, kesederhanaan, dan keteguhan hati anak-anak Belitong dalam mengejar ilmu sangat selaras dengan napas kemandirian yang diusung dalam Hari Santri Nasional.
Dalam ulasannya bersama siswa, Saepul membedah empat adegan penting yang memuat dialog sarat makna: Ketulusan Menuntut Ilmu Tanpa Batas Siswa diajak kembali ke adegan hari pertama pendaftaran SD Muhammadiyah Gantong yang nyaris ditutup.
Melalui dialog penuh komitmen dari tokoh Pak Harfan, Saepul menekankan kepada siswa bahwa pendidikan tidak diukur dari kemewahan fasilitas, melainkan dari keikhlasan hati untuk memberi dan menerima ilmu. Pesan ini mengakar kuat pada prinsip man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil) yang menjadi fondasi kaum santri.
Prinsip Tangan di Atas
Salah satu dialog paling membekas dalam ingatan para siswa adalah kutipan pidato Pak Harfan: “Hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.” Saepul menjelaskan kepada para remaja ini bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh meruntuhkan martabat seseorang. Karakter luhur justru lahir dari kerelaan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
Tribute untuk Pengorbanan Orang Tua Melalui dialog haru saat ayah Lintang—seorang nelayan miskin—menyerahkan anaknya ke sekolah dengan penuh harapan, para siswa diingatkan akan besarnya restu dan pengorbanan orang tua. Dialog ini mengetuk kesadaran siswa SMP Bhakti Nugraha agar selalu menghormati dan tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar yang telah dibiayai oleh orang tua mereka.
Pantang Menyerah Melawan Keterbatasan Diskusi mencapai puncaknya saat mengulas karakter Lintang yang harus mengayuh sepeda puluhan kilometer dan bertaruh nyawa demi sekolah. Dialog Lintang yang tetap ceria meski kelelahan menjadi tamparan positif bagi generasi digital saat ini. Saepul memotivasi para siswa agar tidak mudah mengeluh dengan fasilitas modern yang ada sekarang, dan mencontoh spirit juang Lintang.
Melalui narasi visual dan dialog mendalam dari Laskar Pelangi, SMP Bhakti Nugraha Bogor berhasil menanamkan karakter positif kepada siswanya. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan religius aula masjid ini membuktikan bahwa memperingati Hari Santri bisa dilakukan secara kreatif, interaktif, dan tetap kontekstual dengan tantangan pendidikan masa kini.
(Kominfo SMP Bhakti Nugraha Bogor)

